Siapa suruh jadi PERAWAT?
Kawan... berapa banyak dari anak-anak ketika mereka ditanya apa cita-cita mereka, mereka akan menjawab menjadi PERAWAT? Berapa banyak orangtua yang merasa sangat bangga ketika mereka memiliki anak seorang PERAWAT? Berapa banyak masyarakat yang memuji dan mengaku kagum dengan profesi PERAWAT? Kawan, bisakah kau jawab?
"Apa sih hebatnya jadi PERAWAT?", seorang ayah bertanya pada anaknya yang sedang mengisi formulir Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. "Kamu kan pintar, masuk saja kedokteran.... yah, pilihan kedua keperawatan boleh lah...." (not the main choice)
Lalu seorang kawan ingin melanjutkan pendidikannya ke fakultas keperawatan selepas SMU, namun temannya yang ingin melanjutkan pendidikannya menjadi seorang dokter berkata "Kamu mau jadi perawat? hah??? kamu yakin? haha... baguslah, nanti kan aku jadi dokter, berarti kamu bisa kerja denganku dan bisa kusuruh-suruh...." (not a great profession)
Dan banyak pendapat lain dari kawan2 kita:
"PERAWAT? Jadi perawat gak usah sekolah tinggi-tinggi... nanti juga kerja cuma ngurusin 'tai' (maaf..)" (not for smart people)
"Jadi perawat mana ada duitnya?"
"Masa udah pintar2 sekolah di sekolah unggulan cuma untuk jadi perawat?"
Kesimpulannya..... banyak alasan untuk tidak jadi PERAWAT.
- Perawat bukan pekerjaan yang hebat (menurut sebagian besar sumber). Bagaimana bisa hebat kalau pekerjaannya ngurusin hal-hal yang jorok seperti urine dan kotoran manusia. Pekerjaan yang kotor dan menjijikkan. Buat apa sekolah tinggi kalau akhirnya cuma ngerjain hal-hal semacam itu.
- Perawat pekerjaan yang melelahkan fisik, hati dan pikiran. Jadi perawat harus bisa kerja shift. Ada dines pagi yang mulainya pagi sekali dan pulang sore, ada yang dines sore yang mulainya tengah hari sampai beberapa jam sebelum tengah malam, dan yang paling susah ada dinas malam yang mulainya malam sampai pagi keesokan harinya. Nggak perduli hari kerja atau hari libur. 24 jam sehari 7 hari seminggu, perawat gak boleh absent. Malah kadang-kadang meninggalkan keluarga. Melewatkan acara-acara yang asyik karena malah kerja di hari libur, atau tidur di siang hari akibat kerja semalaman. Mengalami dilema yang sulit seperti harus merawat orang lain yang sakit sementara anak di rumah juga sedang sakit. Merelakan hidup di kehidupan yang agak tidak normal. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ada beberapa keluarga yang hancur karena istri/suami yang profesinya perawat kurang bisa memenuhi harapan pasangannya (ya itu tadi, suami pulang eh istri malah berangkat kerja, anak-anak dan istri libur eh suami mesti ber-dinas ria). Cemberut dikit atau agak nggak sabaran sama pasien yang bandel dibilang judes. mmmmhhh... Perawat kan juga manusia.
- Perawat cuma pekerjaan pembantu Dokter. Bukannya nyalahin Dokter. Tapi fenomena yang terjadi adalah perawat cuma dianggap pembantunya dokter, gak bisa melakukan pekerjaannya tanpa instruksi dari dokter. Gak boleh membantah apalagi kasih saran sama Dokter. Dokter boleh membentak perawat yang kerjanya menurut dia tidak memuaskan. Bahkan menurut masyarakat: kalo Pasien tambah buruk, itu berarti salah perawat, tapi kalau pasiennya jadi sembuh, itu berkat jasa Dokter. .....just in some cases, not always but often happened......
- Perawat bukan pekerjaan yang dibanggakan. Bagaimana bisa bangga kalau sudah kerja capek-capek eh tetap miskin pula ditambah lagi dipandang sebelah mata sama orang-orang.

Tapi benarkah Perawat seburuk itu???
Terus kenapa masih ada yang mau jadi perawat?
1. Karena Perawat adalah Pahlawan.
Dia ada saat pasien-pasien ada dalam kondisi terburuk, gak cuma ada saat seseorang dalam kondisi normal dan maksimal. Dia selalu merelakan waktunya demi kepentingan orang lain yang membutuhkan, walau kadang harus mengorbankan orang-orang yang dicintainya. Perawat tidak pernah meninggalkan pasien dan selalu ada untuk kliennya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Coba kalau ada liburnya, masa pasien harus ditunda dulu sakitnya, atau sakitnya pilih waktu di jam dan hari kerja saja. Perawat punya jiwa pengabdian yang besar, yang ketika orang-orang tidak menganggapnya berarti, masih bisa tersenyum dan merawat. Perawat punya kesabaran yang tinggi, menghadapi Dokter dan teman-teman kerja yang lain, menghadapi pasien yang terlalu sakit atau terlalu cerewet, menghadapi keluarganya yang selalu menagih dan meminta. Perawat akan jadi mulia ketika mereka bisa bekerja dengan tulus walau tidak dibayar dengan pantas. Perawat adalah malaikat yang sanggup membangkitkan semangat hidup pasien-pasiennya yang sudah putus asa. Perawat juga pendamping dan pendengar yang baik pada saat gembira sampai saat ajal hampir menjemput. Tidak semua orang bisa jadi perawat yang hebat, tapi hebatlah perawat yang sanggup bertahan menjalani profesinya secara profesional tanpa imbalan yang sepadan. Mereka tidak menghitung kepuasan bekerja lewat uang atau pujian. Perawat merasa senang ketika satu senyum terukir di bibir sang pasien dan keluarga pasien. Perawat merasa bangga ketika seorang anak kecil yang sakit jantungnya berlari untuk mencari dan memeluknya. Perawat tersenyum ketika pasiennya membuka mata dan menggerakkan tangan seusai operasi. Perawat akan menangis ketika pasiennya tidak lagi ingin melanjutkan hidupnya. Perawat turut berduka ketika melepas pasien menuju ke alam baka. Perawat terluka ketika Pasien terlihat kesakitan dan menderita sementara tak banyak yang bisa dilakukan untuk menolongnya. Perawat sanggup mengubah dirinya jadi apapun saat bekerja bisa jadi petugas administrasi saat pasien masuk atau pulang di malam hari atau di hari libur, Pasien bisa jadi satpam yang menjaga keamanan pasien saat pasien membutuhkannya, Perawat bisa membersihkan ruangan atau mengepel lantai saat dibutuhkan di malam hari. Perawat mau bekerja lembur saat ada kecelakaan besar, bencana atau wabah penyakit, walau kadang tanpa tambahan imbalan atau bekerja sukarela.
Ah... lagi-lagi Perawat. Benarkah ia tidak penting ketika sebuah rumah sakit tidak bisa berdiri tanpa kehadirannya. Benarkah dia tidak berharga ketika saat ia bekerja ia mengorbankan harga dirinya.
Indonesia, bisakah kau lebih ramah sedikit kepada perawat-perawat ini. bisakah ada senyum yang terluang untuk orang-orang yang membantumu saat kau tidak berdaya dan tergeletak di rumah sakit. Bisakah keluarga memberikan sedikit pengertian dan dukungan, membuat mereka merasa dibanggakan dan dibutuhkan serta tidak ditinggalkan. Bisakah ia dianggap berarti dengan memberikan gaji yang paling tidak setara dengan orang-orang di bidang yang lain pada level yang sama.
Manusia belajarlah menghargai orang melalui hal-hal positif yang dilakukannya, bukan hanya menghakimi seseorang melalui kehebatan profesinya. Perawat cuma salah satu contoh. Petugas kebersihan di jalan atau di tempat kerja, supir-supir angkutan umum, orang-orang yang menjual makanan, pembantu dirumah, dsb - alangkah hebatnya kita kalau kita bisa menghargai dan mengucapkan terima kasih pada orang orang yang walaupun dianggap hina bagi dunia tapi telah melakukan hal-hal terbaik untuk membantu kita. Tanpa mereka apakah kita bisa hidup sebaik ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar